5 Cara Berdamai dengan Kehamilan Tanpa Perencanaan

kehamilan kehamilan
Saat mengalami hamil diluar rencana, pastinya akan menjadi kabar yang begitu membingungkan buat kamu. Entah kehamilan itu disebabkan karena belum direncanakan seperti kesundulan atau kehamilan yang tak diinginkan. Pasti kamu akan mengalami beberapa emosi negatif seperti khawatir, sedih dan takut terkait kesanggupan saat hamil, melahirkan atau mengauh anak. Bahkan hal itu juga membuat wanita marah pada dirinya sendiri atau pasangan dan terkadangg membuat wanita enggan untuk menjaga kandungannya. Psikolog Anak & Keluarga, Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Si., berkata walaupun hal tersebut sulit untuk kamu terima, tapi bisa menjadi musibah bila kamu tak segera berdamai dengan keadaan. “Kalau ini tidak diterima sebagai anugerah, maka akan terus jadi musibah,” katanya. “Kejengkelan, kekesalan, kesedihan, ketakutan, semua masalah psikologis perlu diselesaikan. Kalau ini selesai, maka kehamilan akan lebih baik,” tambahnya. Psikolog yang akrab disapa Nina berkata bahwa seluruh emosi negatif yang disebabkan kehamilan tanpa rencana harus segera dinormalkan kembali dalam kurun waktu 2 minggi supaya tak menjadi beban yang semakin menumbuk bagi calon ibu. Lantas bagaimanakah caranya untuk berdamai dengan keadaan? Nina memberikan beberapa cara: 1. Menerimanya Sebagai Takdir Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah menerimanya sebagai takdir. Kamu bisa membicarakan dan mengeluarkan semua unek-unekmu hingga kamu merasa plong. Selain itu penting juga memiliki waktu untuk menangis sendiri, tapi jangan sampai berlarut-larut. Menurut Nina, memiliki waktu untuk menangis dapat menjadi cara mengeluarkan unek-unek yang efektif. Karena kamu bisa berbicara dengan dirimu sendiri tanpa harus mengatakan sesuatu. “Misal, saya mau nangis sehari 3 kali aja. Saya ngga kepingin diganggu gugat, Cuma pingin nangis doang,” ujarnya memberi contoh. Kamu bisa menggunakan teknik mencicil seperti ini agar bebanmu tak semakin menumpuk. Secara perlahan-lahan emosi negatifmu bisa hilang. Diharapkan saat sudah lahiran nanti, emosimu sudah normal dan terkendali karena kamu juga harus menjaga bayimu kelak. 2. Mengakui Kamu harus mengakui kalau semua ini merupakan sebuah anugerah dari Tuhan. Jangan pernah berpikir kalau kemahilan adalah beban atau sebuah kesalahan, sebab anak adalah pembawa rejeki. Kamu juga bisa mengakui alasan yang membuatmu merasa terbebani atas kehamilanmu ini, apakah perasaan takut karena tak sanggup mengasuh anak, ketakutan terkait masalah keuangan atau hambatan untuk pencapaian pribadimu. 3. Diskusikan dengan Pasangan atau Orang Terdekat Kamu juga bisa mengajak pasanganmu berdiskusi terkait cara bagaimana kamu dan pasanganmu akan berbagi peran. Misalnya pasanganmu bakal lebih terlibat saat mengasuh anak pertama selagi dirimu mengalami morning sickness, perencanaan mencari uang tambahan demi mempersiapkan segala kebutuhan selama hamil dan setelahnya, atau isu lainnya yang membuat dirimu merasa terbebani. Selain itu dukungan yang diberikan pasangan juga sangat berarti untukmu selama melewati berbagai hal tersebut. Kamu juga dapat mencari support dari keluarga atau teman terdekatmu. Mungkin bereka bisa memotivasimu dan memberikan inspirasi tentang cara mengelola keluarga bila anak bertambah. Apalagi bila orangtuamu atau teman dekatmu memiliki pengalaman yang sama denganmu, atau bahkan pernah mengalami perasaan yang sama denganmu, maka kalian akan nyambung saat bercerita. Pengalamannya bisa kamu jadikan motivasi, mereka saja bisa melewati semua ini walaupun terasa sulit diawal, pastinya kamu juga akan mengalami hal yang sama. perbedaannya temanmu itu sudah selesai, sedangkan kamu baru memulainya. 4. Koneksi dengan Diri Anda Sendiri Coalah terkoneksi dengan dirimu sendiri, caritahu tentang siapa dirimu, apa yang dirimu inginkan. Hal tersebut bisa bisa membuatmu lebih bisa menerima dan mencintai dirimu sendiri. Jika kamu lebih mengenal dirimu sendiri, mungkin bisa menjadi awal perdamaian yang baik. 5. Koneksi dengan Janin di Kandungan Setelah terkoneksi dengan diri sendiri, kamu juga harus bisa terkoneksi dengan janin yang ada di kandungamu agar kamu bisa lebih mengenal dan mencintainya. Kamu bisa rutin berkomunikasi dengannya, makan makanan yang bergizi dan minum vitamin kehamilan secara rutin, agar bayimu tumbuh dan berkembang dengan baik. Jangan lampiaskan emosi negatifmu kepada janin yang tak tahu apa-apa. Nina juga berkata jika emosi-emosi negatif yang kamu rasakan susah untuk dihilangkan, maka kamu harus memperoleh penanganan lebih insentif dengan mengunjungi psikolog.